Harta Pemenang

Oleh: Aryanna Salma

Mariano menatap menara Sealed yang menjulang kokoh. Dia menarik napas panjang, lalu mengayunkan pedangnya kuat-kuat. Disertai bunyi gemuruh, tiang menara pun rubuh. Cony dan Sally melemparkan pandangan iri ke arahnya, mereka terlalu jauh untuk menyusul Mariano. Hanya Victoria yang tersenyum sambil mengamati dasar piramida, menanti turunnya Mummy dari singgasana.

Raungan memekakkan menggema. Memantul dari dinding-dinding gua, tempat piramida penuh emas dan berlian itu terkubur selama ratusan tahun. Setelah hening sejenak, angin bertiup membawa lembaran kain lusuh yang melayang, lalu berputar membentuk pusaran di dasar piramida. Mummy melangkah keluar dari pusaran itu, menjejakkan kaki raksasanya ke tanah. Retakan panjang merekah di dinding gua, menjalar dan menggetarkan sekelilingnya.

Mariano berusaha menyeimbangkan badannya, sebelum melompat dan menancapkan pedangnya di perut raksasa penjaga harta itu. Lagi-lagi Mummy meraung keras, lalu mengepalkan tinjunya dan menghantamkannya ke tubuh mungil Mariano. Mariano pun melayang dan terkapar di tanah.

Pemandangan itu membuat senyum Victoria semakin lebar. Dengan gemulai, dia mengayunkan kipas sutra miliknya. Kipas itu mengeluarkan cahaya keemasan yang menyerang kaki Mummy bertubi-tubi. Kehilangan keseimbangan, Mummy terjengkang, meninggalkan lubang besar di dasar piramida.

Victoria tertawa penuh kemenangan, membayangkan tumpukan emas dan berlian yang akan menjadi miliknya. Tapi mata sebesar bola basket milik Mummy bersinar, mengeluarkan cahaya merah yang langsung menghantam dada Victoria. Seketika tawa kemenangannya lenyap. Kipas sutra itu pun melayang dan jatuh perlahan di samping tubuh lunglai pemiliknya.

Secepat kilat, Cony si kelinci mengambil kesempatan. Dia melepaskan syal merah yang menghiasi lehernya, dan menjatuhkannya ke tanah. Syal merah itu memanjang, meliuk dan bergerak ke arah Mummy. Dalam hitungan detik, syal merah itu berhasil melilit Mummy─membuatnya terlihat seperti bendera sebuah negara di Asia, yang bagian putihnya sudah dekil.

Mummy meronta, berusaha melepaskan diri. Tapi syal ajaib itu malah melilitnya semakin kencang. Cony memandangnya penuh kemenangan. Tinggal satu tebasan akhir, dan dia akan memenangkan perburuan harta ini. Dia merogoh dompetnya, mencari satu-satunya senjata yang bisa menghabisi musuh. Tapi senjata itu tak ditemukannya, dia pun mulai memeriksa kantung bajunya yang lain.

Cahaya kehijauan melesat dari arah belakang. Cony memutar tubuhnya, dan melihat Sally si bebek berdiri dengan busur di sayapnya. Cony berbalik, dan menatap lesu mortal arrow head yang tertancap di dahi Mummy.

Raungan kesakitan keluar dari mulut lebar Mummy. Kain-kain lusuh yang membentuk tubuh monsternya terlepas, menyisakan gundukan pasir yang menyatu dengan debu piramida.

“Ah, kalah lagi!” Riki mengacak-ngacak rambutnya, “padahal aku juga punya pendant arrow head level s.” Dia memandang lesu kembang api dan Mariano yang menunduk sedih di layar smartphonenya. Sementara si bebek Sally mengacungkan satu sayapnya, dan tersenyum penuh kemenangan.

“Mau sampai kapan main game terus? Belajar sana!” bentak Mama, sambil melotot dari ujung sofa. Terpaksa Riki beranjak ke kamar dan mulai membuka buku pelajarannya.

-End-

27052015, sambil kesal karena Edward jagoanku kalah terus.

Iklan